• Jelajahi

    Copyright © - Babelan Info
    babelan info

    Iklan

    gambar

    Ngaji Ekologi, Penghayatan Dampak Lingkungan Pesisir

    Senin, April 01, 2024 WIB Last Updated 2025-01-01T11:18:55Z

    Sumber : Bisot

    Kabupaten Bekasi - Labtek Apung, ITB, dan Padepokan Umah Suwung Berkolaborasi menggelar kegiatan unik bernama "Ngaji Ekologi" Sabtu, 30 Maret 2024, Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong. 


    Dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga lingkungan, Acara diawali dengan ceramah oleh Kyai Abdullah Wong yang membahas tentang hubungan antara Islam dan lingkungan. 


    Kyai Wong menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Alam semesta, menurutnya, adalah ayat Allah yang harus dijaga dan dirawat kelestariannya. Merusak alam sama saja dengan merusak ayat Allah.


    Pesan Kyai Wong diperkuat dengan pembagian buku saku "Sajadah Tak Berujung" yang berisi pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Buku ini menjelaskan bahwa mencintai lingkungan dan menjaga kelestariannya adalah bagian dari ibadah kepada Allah.



    Tahun Ketiga Pengabdian di Hilir Citarum


    Novita Anggraini, penanggung jawab kegiatan Ngaji Ekologi, menjelaskan bahwa tahun ini merupakan tahun ketiga Labtek Apung mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Hilir Citarum. Pendekatan Citizen Science yang diterapkan secara bertahap telah berhasil membangun semangat masyarakat dalam membaca dan mengidentifikasi berbagai persoalan lingkungan di wilayah mereka.


    Novita lebih lanjut menjelaskan latar belakang diadakannya Ngaji Ekologi. Fenomena ekologi yang kompleks, seperti deforestasi mangrove, abrasi, krisis air, dan konflik multispesies, menjadi tanda era Antroposen, di mana manusia menjadi kekuatan geologis yang mengubah lanskap planet.


    Ngaji Ekologi bertujuan untuk memulai dialog tentang ekologi dari masjid. Kegiatan ini merupakan upaya bersama untuk menumbuhkan pemahaman tentang konsep berbagi ruang hidup antara manusia dengan entitas makhluk lainnya di wilayah pesisir. Era Antroposen telah menyebabkan ketidakselarasan antara unsur biotik dan abiotik. Pendekatan religiusitas menjadi poros untuk menghadirkan kembali kepercayaan yang tidak hanya terbatas pada ibadah vertikal, tetapi juga pada penghayatan horizontal terhadap alam semesta.


    Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan berbagai pembicara dari akademisi, pemerintah desa, dan komunitas. Diskusi ini membahas tentang berbagai permasalahan lingkungan di wilayah pesisir, seperti abrasi, pencemaran air, dan krisis air. Para pembicara juga memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.


    Kegiatan Ngaji Ekologi ditutup dengan buka puasa bersama. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pemerintah desa, para tokoh RT dan RW, para ulama, dan komunitas pecinta alam.


    Ngaji Ekologi merupakan contoh kegiatan yang positif dan kreatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Dengan menggabungkan pendekatan agama dan sains, kegiatan ini mampu menarik minat masyarakat untuk belajar dan memahami lebih dalam tentang masalah lingkungan.


    Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan di berbagai tempat lainnya. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menjaga dan merawat kelestarian alam semesta. (NAP/Bisot)

    Komentar

    Tampilkan